Sukses Belajar dengan 6 M

July 7, 2008 at 5:47 pm 1 comment

Sukses Belajar dengan 6 M

Oleh : P. ADRIANUS

pontianak post 6 maret 2008

Belajar merupakan aktivitas yang harus dilalui oleh setiap makhluk hidup tanpa kecuali, termasuk kita manusia. Kegiatan belajar terjadi sejak hayat dikandung badan, sejak dalam kandungan sampai akhir hayat, yaitu ketika raga ditinggalkan roh yang selama hidup telah menjadi satu kesatuan hakiki yang tak terpisahkan.

Di dalam rahim kita telah belajar banyak untuk menghadapi rangsang, mendeteksi segala hal. Kemampuan menganggapi rangsang merupakan ciri kehidupan yang dikoordinasikan oleh berbagai sistem organ yang menyusun kedirian setiap makhluk hidup. Kita belajar bergerak meski di ruang sempit rahim ibu kita yang memiliki makna yang tak ternilai. Jungkir balik, sunsang, berputar, menendang, dan lain sebagainya. Awalnya tegak, lalu ketika akan dilahirkan kita berputar lalu sunsang mengarah ke pusat bumi (geotaksis).

Lahir pun kemudian kita terus belajar, menggunakan mata untuk memperoleh informasi, mendengar, bergerak, merangkak dan berjalan. Kehidupan kita diwarnai dengan kegiatan yang terus belajar tiada henti. Mengerti akan arti kehidupan melalui interaksi pembelajaran keseharian. Dengan belajar, kita mengetahui tindakan mana yang baik dan tindakan mana yang tidak baik dengan takaran nilai, norma, kultur, budaya dan agama.

Belajar disadari maupun tidak merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh informasi. Dengan begitu kita jadi tahu tentang segala sesuatu yang ingin kita ketahui. Dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, An English-Indonesia Dictionary karya John M. Echols dan Hassan Shadily, Gramedia ; Jakarta, disebutkan bahwa belajar dari kata learn. Learn yang berarti mempelajari dan mendengar. Belajar merupakan petualangan makhluk sepanjang hayat, atau sebuah perjalanan untuk melakukan eksplorasi tanpa akhir untuk menemukan pemahaman pribadi.

Belajar melibatkan berbagai sensor, yaitu alat inderawi. Alat indera tersebut yaitu kulit, mata, hidung dan telinga. Sebagai ‘pintu’ awal informasi, alat inderawi meneruskan rangsangan tersebut ke dalam otak sebagai pusat memori. Di dalam otak (termasuk sumsum tulang belakang, medula spinalis) terdapat 100 milliar sel otak (neuron). Otak yang megah tersebut harus dilatih terus menerus melalui proses pembelajaran dan tentu memerlukan suplai energi yang cukup dari makanan. Kegiatan pembelajaran membentuk koneksi antarsel otak yang dihubungkan melalui sinapsis. Dari 100 milliar neuron tersebut dapat membentuk 20.000 cabang atau rangkai kesatuan sel otak, dengan neurit di ujung yang satu, sedangkan dendrit di ujung yang lainnya.

Otak kita terdiri dari dua belahan otak yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kiri diperuntukkan untuk pembelajaran yang sifatnya akademik, yaitu kemampuan bahasa, matematika, pemikiran logis, urutan dan analisis. Sedangkan, otak kanan digunakan untuk aktivitas atau kemampuan yang sifatnya kreativitas, misalnya ketika menggunakan rima, irama, musik, kesan pandangan (visual), mengenali gambar dan warna. Otak kanan dan kiri dihubungakan oleh jembatan varol.

Kemampuan belajar terus diasah agar kita memahami informasi, dilatih seimbang baik untuk otak kanan ataupun otak kiri. Dalam buku ‘Quantum Learning’ kita dapat membaca bahwa untuk memperoleh informasi berbagai cara dapat kita lakukan. Cara memperoleh informasi tersebut melalui enam cara dengan spesifikasi daya serap masing-masing. Cara untuk memperoleh informasi itu merupakan cara sukses setiap makhluk hidup untuk belajar. Karena setiap langkah tersebut dimulai dengan huruf M, maka tulisan ini diberi judul ‘Sukses Belajar dengan 6 M’.

M yang pertama, yaitu MEMBACA. Rata-rata orang membaca dapat mengingat 20% informasi. Pasti ada yang lebih dari itu. Membaca melibatkan mata sebagai sensor utama. Mengenali abjad merupakan proses panjang yang diperkenalkan oleh orang tua dilanjutkan di sekolah. Di setiap mata kita terdapat dua sel mata yaitu sel batang dan sel kerucut yang bertugas mengenali lingkungan dan ketika membaca mata sel-sel tersebutlah yang bertugas mengenali huruf atau angka yang terangkai dalam kalimat. Kemudian, informasi tersebut dilanjutkan menuju otak sebagai pusat saraf melalui neuron sensorik (afferen).

Mendengarkan merupakan M yang kedua. Sekitar 30% informasi yang diserap dapat diingat melalui kegiatan mendengarkan ini. Namun, kita berkeyakinan pasti ada orang yang lebih dari skor ini. Mendengarkan informasi merupakan proses melibatkan indera auditorial, telinga. Gendang telinga bergetar ketika ada bunyi-bunyian di sekitar kita. Di telinga terdapat sensor saraf yaitu neuron sensorik (afferen) yang meneruskan impuls (rangsangan listrik) tersebut ke otak sebagai pusat saraf yang bertugas menyimpan informasi yang masuk.

M yang ketiga yaitu Melihat. Tidak jauh beda dengan membaca, tapi melihat disini bukan melihat huruf dan angka tapi melihat wujud benda yang dipelajari. Misalnya, kata Sapi yang kita baca lalu kita melihat wujud sapi tersebut. Kelebihan melihat dibandingkan dengan membaca, karena membaca hanya mengingat 20%, tapi dengan melihat skor rata-rata pembelajaran seperti ini meningat menjadi 40% informasi dapat diingat. Melihat juga sama dengan membaca, melibatkan indera mata yang melibatkan sel-sel mata untuk mengenali wujud benda yang diteruskan ke otak sebagai pusat saraf.

Cara manusia memeroleh informasi yang keempat yaitu Mengatakan. Rata-rata skor ingatan orang belajar dengan mengatakan sesuatu yaitu 50%. Mengatakan untuk diri sendiri atau untuk orang lain dalam diskusi. Mengatakan berarti kita memasukkan dua kali informasi. Selain melalui mata lalu dikatakan dan diserap melalui telinga. Ini dapat kita lihat ketika di sekolah. Guru-guru ‘senior’ biasanya tak perlu membawa buku paket. Dia sudah ingat 100% atau ingat dalam kepala (baca; luar kepala), karena secara terus-menerus dengan mata pelajaran yang sama disiapkan lebih kurang 24 tahun; 1 tahun bersama ibu di kandungan, 6 tahun bersama orang tua dan orang sekitar, 7 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMA, dan 4 tahun di Perguruan Tinggi. Dalam kurun waktu setelah dia mengajar mata pelajaran yang sama, maka tahun-tahun berikut kemampuan mengajar tanpa buku sudah menjadi miliknya dan mungkin saja sudah hafal setiap halaman buku paket murid.

Lalu, Mengerjakan menjadi M ke lima. Melalui mengerjakan, maka lebih kurang 60% informasi dapat diserap dan diingat. Kegiatan ini adalah mempraktikkan informasi yang telah diperoleh melalui cara membaca, mendengar dan melihat seperti cara diatas. Kegiatan praktik atau praktikum memiliki daya serap yang lebih tinggi dari keempat cara di atas. Maka, langkah ini lebih banyak diminati oleh para guru biofili dan pemakalah biofili dalam seminar untuk proses internalisasi pengetahuan. Karena yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan, tentu disesuai dengan budaya, adat, norma, nilai-nilai kemanusiaan dan kultur. Tidak mungkin semua pembelajaran harus dipraktikkan di pendidikan formal, misalnya sistem reproduksi manusia. Guru atau dosen biasanya memilih kelinci, insecta atau marmut sebagai probandusnya.

Selanjutnya, cara sukses belajar terakhir adalah membaca sekaligus mendengar, melihat, mengatakan & mengerjakan (praktik). Ini adalah gabungan dari kelima cara di atas. Langkah gabungan ini lebih manjur dalam proses internalisasi pembelajaran. Rata-rata manusia dapat ingat informasi melakukan langkah keenam ini sebesar 90%. Mengapa? Karena setelah membaca berarti informasi diserap oleh otak, lalu mendengar orang lain melalui interaksi diskusi (tukar informasi), melihat, mengatakan untuk diri sendiri atau dengan orang lain dan mengerjakan sekaligus. Informasi masuk melalui mata dan telinga, melibatkan emosi positif dan gerak tubuh, melihat wujud informasi tersebut dan mempraktikan informasi tersebut.

Akhirnya, jika ingin sukses dalam belajar (membelajarkan murid), maka lakukan langkah keenam karena merupakan gabungan kelima langkah di atasnya. Atau paling tidak melakukan 1 cara dari 6 M di atas. Kita yakin, ketika melakukan langkah keenam, maka kita akan sukses belajar untuk diri kita sendiri maupun membelajarkan orang lain di sekitar kita, bahkan murid di sekolah. Mudah-mudahan.

*) Penulis, Kepala SMP Santo Fransiskus Assisi Pontianak

Entry filed under: article creative. Tags: .

PAKEM IPA SD Faktor yang mempengaruhi prestasi anak

1 Comment Add your own

  • 1. Emilia Sasmita  |  April 2, 2010 at 3:43 am

    setelah saya membaca artikel ini,,,membuat saya terus ter inspirasi dalam hal belajar dan membuat saya begitu semangat,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


July 2008
M T W T F S S
    Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kegiatan demosains CREATIVE

lantai kita

SD Budhaya Santo Agustinus

SD Budhaya Santo Agustinus

SD Budhaya Santo Agustinus

More Photos

yang mampir di creative

  • 407,817 hits

%d bloggers like this: