Archive for September, 2008

Cacing Sulap Semut Menjadi Buah Beri

University of Arkansas/University of California Berkeley Perut semut hitam di Panama menjadi merah seperti buah ceri matang karena pengaruh cacing nematoda yang menginfeksinya dan 'terpaksa nungging' sehingga menarik perhatian burung.

University of Arkansas/University of California Berkeley Perut semut hitam di Panama menjadi merah seperti buah ceri matang karena pengaruh cacing nematoda yang menginfeksinya dan

Jenis cacing parasit di Panama dapat menyulap tubuh semut inangnya menjadi tampak seperti buah beri yang ranum. Perut semut yang merah berisi akan menarik perhatian burung untuk mematuknya sehingga cacing punya kesempatan menyebar ke mana-mana.

Siasat yang diambil cacing-cacing parasit itu pertama kali diamati oleh Robert Dudley dari Universitas California Berkeley, AS dan Steve Yanoviak dari Universitas Arkansas. Mereka mengatakan hubungan semacam ini merupakan temuan baru dalam dunia sains hewan.

Semut hitam yang hidup di hutan Panama bukanlah makanan burung karena bau dan rasa tubuhnya yang getir. Para ilmuwan selama ini belum pernah melihat burung makan semut, namun kadang-kadang ternyata melakukannya.

“Saya jelas-jelas melihat burung-burung datang dan berhenti sebentar barang sedetik ke dekat semut-semut itu sebelum akhirnya terbang, mungkin karena semut bergerak menjauh,” ujar Dudley. Jadi, ia yakin burung-burung pemakan buah menganggapnya mangsa yang empuk.

Setelah diamati, sebagian dari semut-semut tersebut ternyata menunggingkan perutnya yang berwarna merah ke atas. Padahal pada kondisi normal, semut tersebut berwarna hitam.

Semut-semut yang perutnya menjadi merah itu ternyata mengandung cacing parasit dari spesies Myrmeconema neotropicum seperti dilaporkan dalam jurnal Systematic Parasitology edisi Februari 2008. Cacing tersebut termasuk kelompok nematoda, tubuhnya silinder tetapi tidak bersegmen.

“Ini fenomenal karena nematoda mengubah semut menjadi merah menyala dan mirip sekali dengan buah-buahan di kanopi hutan,” ujar Yanoviak. Strategi yang dilakukan cacing juga begitu sempurna karena tidak hanya mengubah tampilan semut, tetapi juga perilaku semut.

Akhirnya, jika burung tertarik memangsa semut, telur-telur cacing punya kesempatan tersebar ke mana-mana dan dengan mudah memperoleh nutrisi untuk berkembang biak di kotoran burung.(REUTERS)

WAH
Sumber : REUTERS

September 28, 2008 at 9:50 am 1 comment

Mimpi dan Bau )-( Bau dan Mimpi

Bau harum membuat mimpi jadi indah

Bau harum membuat mimpi jadi indah

JAKARTA, RABU – Apa yang Anda cium saat tidur mungkin akan menentukan seperti apa mimpi yang mungkin Anda alami. Hasil penelitian terakhir memang menunjukkan indikasi keterkaitan antara bau dengan mimpi.

Jika orang yang tidur diberi bau mawar, mimpinya pun menjadi berbunga-bunga. Sebaliknya, jika mencium bau telur busuk, mimpi buruk siap menghadang.

Meski demikian, bau-bauan tidak secara langsung menentukan jenis mimpi seseorang. Namun, bau-bauan terbukti mempengaruhi tingkat emosional mimpi seseorang.

“Jika bau memiliki pengaruh kuat terhadap emosi Anda saat bangun, ia juga punya pengaruh yang kuat saat Anda tidur,” ujar Boris Stuck, peneliti dari University Hospital Mannheim, Jerman yang mempresentasikan temuannya itu dalam pertemuan tahunan Akademi Otolaringologi Amerika-Bedah Kepala dan Leher baru-baru ini.

Dalam penelitiannya, Stuck menghadapkan bau mawar dan telur busuk kepada 15 perempuan sehat yang rata-rata berusia 20 tahunan. Perempuan muda sengaja dipilih karena memiliki sensor penciuman yang paling tajam.

Bau-bauan dialirkan dengan penuh seksama agar tidak sampai mengganggu dan membangunkan mereka saat tidur. Selama mereka tidur, aktivitas otaknya diamati. Saat mereka telah berada pada tahap REM (rapid eye movement), kondisi yang biasanya mimpi muncul, bau-bauan dilairkan ke lubang hidung selama 10 detik.

Setelah beberapa menit, masing-masing dibangunkan dan ditanya mimpi apa yang dialaminya. Mereka diuji selama tiga kali, masing-masing jiak diberi bau mawar, bau telur busuk atau sulfur, dan tanpa diberi bau apapun.

Hasil kesimpulannya menunjukkan bahwa bau-bauan yang wangi membuat mimpi indah. Sementara bau busuk membuat mereka mimpi buruk. Selama ini sensor penciuman diketahui terkait erat dengan sistem limbik pada otrak manusia yang mengatur emosi dan perilaku.

WAH
Sumber : National Geographic News

September 25, 2008 at 4:15 pm 2 comments

Ikan Karang Menyala Merah untuk Berkomunikasi

JAKARTA, RABU – Di antara celah karang yang tajam, ikan-ikan yang hidup di laut memiliki cara komunikasi yang unik satu sama lain. Misalnya, dengan kemampuan menyala dalam gelap atau fluorisensi untuk menunjukkan eksistensinya.

Michiels et al./BMC Ecology 2008 - Enneapterygius pusillus

Michiels et al./BMC Ecology 2008 - Enneapterygius pusillus

Berdasarkan hasil studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology edisi September 2008, setidaknya terdapat 32 jenis spesies ikan karang yang memiliki kemampuan tersebut. Ikan-ikan itu hidup pada kedalaman lebih dari 10 meter.

Salah satunya spesies Enneapterygius pusillus dan Pseudocheilinus evanidus yang baru diketahui menyala merah di kegelapan. Penemuan tersebut mengejutkan karena ikan laut secara teori lebih memilih warna hijau atau biru yang memiliki panjang gelombang pendek.

“Ikan laut umumnya tidak melihat atau menggunakan warna merah, kecuali beberapa ikan laut dalam,” ujar Nico Machiels, dari Universitas Tuebingen, Jerman. Sebab, mata ikan lebih peka terhadap gelombang pendek.

ia mengatakan ikan-ikan tersebut tidak memproduksi sendiri warna merah itu. Namun, pigmen-pigmen di tubuhnya mengubah gelombang cahaya hijau dan biru yang jatuh ke tubuhnya dan memantulkannya menjadi gelombang cahaya merah.

Hal ini menunjukkan bahwa waran merah mungkin juga umum digunakan ikan laut. Tubuh yang berpendar menjadi cara ikan tersebut untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
WAH
Sumber : National Geographic News

September 25, 2008 at 3:59 pm Leave a comment

Simpanse Lebih Suka Makanan yang Dimasak

JAKARTA, SELASA — Andai dapat melakukannya sendiri, hewan ternyata juga lebih suka mengonsumsi makanan yang dimasak terlebih dahulu. Selain lebih mudah dikunyah, makanan yang dimasak lebih mudah dicerna organ pencernaan.

Nenek moyang manusia mungkin menyadari manfaat tersebut sehingga memilih memasak makanannya. Sayangnya, bukti-bukti yang mendukung pendapat tersebut sulit ditemukan.

Jean-Michel Krief Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

Jean-Michel Krief - Simpanse di Taman Nasional Kibale, Uganda makan tanah dan duan-daunan yang berkhasiat untuk kesehatannya.

Salah satunya mungkin dapat dilihat dari hasil penelitian terbaru terhadap kera besar untuk menilai makanan yang dimasak dan tidak. Kera besar dan manusia memiliki sifat genetika yang sebagian besar sama.

Penelitian yang dilakukan Victoria Wobber dan mahasiswa bimbingannya di Universitas Harvard menyediakan dua jenis makanan kepada beberapa spesies kera besar. Bonobo, gorila, dan orangutan ternyata tak terlalu memilih-milih makanan yang dimasak atau tidak. Kecuali untuk daging sapu, mereka lebih suka yang dipanggang.

Hal yang cukup berbeda terlihat pada simpanse, kera besar paling dekat kekerabatannya dengan manusia dan diketahui memiliki 98 persen DNA seperti manusia. Simpanse jelas lebih suka wortel, kentang manis, dan daging sapi yang dimasak daripada dalam bentuk mentah. Namun, mereka tak memilih-milih kentang putih dan apel yang dimasak karena tidak mengalami perubahan rasa yang berarti.

Sebelumnya hewan lain juga diketahui lebih menyukai makanan yang dimasak. Misalnya, kucing yang menyukai daging matang atau tikus yang lebih suka gandum yang dimasak. Meski jarang atau bahkan tak pernah menemukan makanan yang dimasak, hewan ternyata lebih menyukainya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mungkin mencoba memasak makanan begitu punya kesempatan untuk mencobanya di masa lalu dan mewariskannya hingga kini.
WAH
Sumber : LIVESCIENCE

September 23, 2008 at 10:57 am Leave a comment

Planet Kerdil Kelima Diberi Nama Haumea

A. Feild/Space Telescope Science Institute/NASA Ilustrasi planet kerdil bernama Haumea dan bulan-bulannya, Hi'iaka dan Namaka.

A. Feild/Space Telescope Science Institute/NASA Ilustrasi planet kerdil bernama Haumea dan bulan-bulannya, Hiaka dan namaka

HONOLULU, SENIN — Jajaran planet kerdil di tata surya kembali bertambah dengan dimasukkannya obyek baru yang diberi nama Haumea. Obyek yang ditemukan pertama kali pada tahun 2005 berada di satu kawasan dengan Pluto.

Haumea diambil dari nama dewa Bumi dan kesuburan yang diyakini penduduk asli Hawaii. Nama tersebut dipilih Himpunan Astronomi Internasional (IAU) dalam kongres terakhir di Paris, minggu lalu. Obyek tersebut merupakan planet kerdil kelima setelah Pluto, Ceres, Eris, dan Makemake.

Planet kerdil merupakan kelompok baru yang ditetapkan IAU untuk mendefinisikan obyek yang tidak masuk dalam jajaran planet. Definisi tersebut ditetapkan sejak dua tahun lalu setelah IAU mengeluarkan Pluto dari kelompok planet di tata surya. IAU sempat mengganti istilah planet kerdil dengan plutoid, tapi urung menggunakannya.

Tidak seperti Pluto yang cenderung bulat, Haumea memiliki bentuk loncong seperti telur. Para astronom menduga bentuk tersebut disebabkan rotasinya yang relatif cepat akibat tumbukan obyek lainnya di masa lalu.
WAH
Sumber : AP

September 23, 2008 at 10:48 am 2 comments

Aktivitas Berpikir Bikin Kegemukan.?

TEMPO Interaktif, New York: Manusia hidup dituntut untuk selalu berpikir. Tapi apa jadinya jika aktivitas purbakala itu justru akan membuat tubuh Anda gemuk.

Ya, survei yang diadakan Dr Angelo Trembley dkk ini merupakan risiko menjadi orang modern. Menurut hasil penelitian akibat tekanan pikiran sehari-hari, hal itu bisa mengakibatkan orang tersebut mengalami pola makan yang eksesif dimana pada akhirnya membuat badan menjadi gemuk.

Dalam surveinya Trembley mencobanya kepada 14 orang siswa. Masing-masing murid mendapat tiga tugas. Tugas pertama semua murid itu dibiarkan dalam posisi duduk.

Tugas kedua adalah aktivitas membaca dan merangkum teks. Terakhir semua siswa akan menjalani serangkaian tes yang berhubungan dengan memori, perhatian, dan kewaspadaan di depan layar komputer.

Setelah 45 menit semua murid itu ‘dipaksa’ untuk memakan sebanyak mungkin. Tim survei sebelumnya telah mengalkulasi bahwa setiap sesi dari pekerjaan itu memerlukan tiga kalori.

Tapi meski energi yang dikeluarkan kecil, semua murid itu mampu mengkonsumsi 203 lebih kalori. Itu setelah mereka melakukan merangkum teks dan 253 kalori lagi setelah melakukan tes di depan layar komputer.

Sebelum diadakan tes tim survei mengambil darah masing-masing murid. Pada setiap sesi yang diadakan kerja pikiran ternyata lebih menghabiskan banyak glukosa dan hormon insulin dibandingkan ketika kita istirahat.

Telegraph | Bagus Wijanarko

September 11, 2008 at 3:47 pm Leave a comment

Rahasia Terbang Lalat

Kenapa lalat susah di tangkap

Lantaran risetnya menyangkut biomekanik terbang serangga, selama 20 tahun terakhir Michael Dickinson sering ditanya oleh wartawan: mengapa lalat begitu sulit ditepuk? Akhirnya Dickinson menemukan jawaban itu.

Dickinson, yang dibantu mahasiswanya, Gwyneth Card, berhasil mengungkap rahasia manuver lalat mengelak dari gebukan alat penepuk. Mereka mengambil gambar lalat buah (Drosophila melanogaster) yang sedang menghindari pukulan memakai kamera digital berkecepatan dan resolusi tinggi.

Jauh sebelum lalat melompat, otaknya yang mungil mengukur lokasi ancaman yang akan terjadi dan menyusun rencana meloloskan diri. Lalat akan meletakkan kakinya pada posisi optimal untuk melompat keluar ke arah yang berlawanan. Seluruh aksi sang lalat berlangsung dalam waktu sekitar 100 milidetik setelah lalat pertama kali melihat alat penepuk. “Ini mengilustrasikan bagaimana cepatnya otak lalat bisa memproses informasi sensorik menjadi tanggapan motor yang tepat,” kata Dickinson, profesor rekayasa biologi Esther M., dan Abe M. Zarem di California Institute of Technology (Caltech), Amerika Serikat.

Sebuah video memperlihatkan bahwa jika alat penepuk hitam berdiameter 14 sentimeter bergerak dengan sudut 50 derajat menuju ke hadapan lalat yang sedang berdiri di meja, lalat akan memindahkan kaki tengahnya ke depan dan bersandar ke belakang. Ia kemudian menaikkan dan meluruskan kakinya untuk terbang ke belakang. Ketika ancaman datang dari belakang, serangga yang dapat melihat hampir 360 derajat itu memindahkan kaki tengahnya sedikit ke belakang.

Bila ancaman datang dari samping, lalat tak menggerakkan kaki tengahnya, namun menggerakkan seluruh tubuhnya ke arah berlawanan sebelum melompat terbang. “Kami juga menemukan bahwa ketika lalat merencanakan gerakannya sebelum lepas landas, ia mempertahankan posisi tubuhnya pada saat pertama kali menyadari adanya ancaman,” kata Dickinson. “Ketika mengetahui ada ancaman, tubuh lalat tetap pada postur apa yang sedang dilakukannya saat itu: makan, berjalan, membersihkan diri, atau bercumbu.”

Dickinson menyatakan, penelitian ini memperlihatkan bahwa lalat mengetahui apakah ia harus melakukan perubahan besar atau kecil pada posturnya untuk mencapai postur sebelum terbang yang benar. Itu berarti lalat harus mengintegrasikan informasi visual dari matanya, yang memberi tahu dari mana ancaman datang, dengan informasi sensor mekanis dari kakinya, yang memberi tahu bagaimana cara bergerak untuk mencapai pose sebelum terbang.

SCIENCEDAILY

by wan

September 9, 2008 at 1:40 pm 4 comments

Older Posts


September 2008
M T W T F S S
« Aug   Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kegiatan demosains CREATIVE

lantai kita

SD Budhaya Santo Agustinus

SD Budhaya Santo Agustinus

SD Budhaya Santo Agustinus

More Photos

Klik tertinggi

yang mampir di creative

  • 409,726 hits