Posts tagged ‘sel punca’

Kontroversial sel punca

Biologi hingga beberapa dekade lalu masih dilecehkan sebagai ilmu kuno dan tak laku. Jauh kalah pamornya dibanding fisika dan terapannya, seperti elektronika, telekomunikasi, hingga komputer. Namun, kini, dengan berkembangnya biologi molekuler dan bioteknologi, maka perkembangan biologi eksperimental sungguh luar biasa, hingga sekaligus menjadi ilmu masa kini dan masa depan yang akan mengubah wajah peradaban umat manusia.

Salah satu bintang perkembangan biologi saat ini adalah riset di bidang sel punca (stem cells). Tepat seabad yang lalu, tahun 1908, istilah ”stem cell” pertama kali diusulkan oleh histolog Russia, Alex- ander Maksimov, pada kongres hematologi di Berlin. Ia mempostulatkan adanya sel induk yang membentuk sel-sel darah (haematopoietic stem cells). Tahun 1978, terbukti teori ini betul dengan ditemukannya sel-sel punca di darah sumsum tulang belakang manusia.

Perkembangan riset sel punca melaju cepat dalam 10 tahun terakhir. Tahun 1998, James Thomson berhasil membiakkan untuk pertama kali sel-sel punca embrionik manusia di Universitas Wisconsin-Madison. Oktober 2007, Mario Capecchi, Martin Evans, dan Oliver Smithies memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran untuk riset mereka mengubah gen-gen tertentu pada mencit menggunakan sel punca embrionik hewan ini.

Sayangnya riset di bidang sel punca embrionik di Amerika Serikat sejak 2005 tidak dibiayai oleh anggaran federal karena diboikot oleh Presiden George W Bush sehabis ia terpilih lagi akhir tahun 2004, dengan alasan etis. Untungnya, November 2007 dua ilmuwan Jepang, Shi- nya Yamanaka dan Kazutoshi Takahashi, serta James Thomson secara terpisah mengumumkan keberhasilan mereka menciptakan aneka jenis sel somatik dari sel punca hasil reprogram sel somatik (induced pluripotent cells) yang berasal dari sel-sel kulit manusia. Temuan ini merupakan terobosan besar yang membuka kesempatan untuk terapi regeneratif tanpa dibebani persoalan etik karena tidak memanfaatkan sel-sel punca dari pembiakan embrio.

Tak urung, pemanfaatan sel punca, terutama yang embrionik, adalah isu yang amat kontroversial. Para penentangnya , terutama di kalangan Kristen dan Katolik yang fanatik di AS menganggap embrio manusia tidak selayaknya digunakan untuk eksperimen dan dihancurkan.

Pekan lalu, televisi kabel CNN memberitakan dua hal menarik berkaitan dengan sel punca. Pertama, Vatikan walaupun menyambut gembira kemenangan Barack Obama sebagai Presiden ke-44 AS—karena menjanjikan perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan bagi rakyat kebanyakan—tetapi sekaligus juga khawatir jika ia akan mencabut larangan riset sel punca embrionik oleh Presiden Bush. Sebenarnya kekhawatiran ini agak berlebihan karena larangan Bush justru telah dijawab dengan temuan Yamanaka, Takahashi, dan Thomson.

Berita kedua CNN yang sempat disiarkan berulang-ulang adalah keberhasilan tim dokter Eropa menolong Claudia Castillo (30), seorang ibu asal Kolombia yang saluran napas ke paru kirinya rusak akibat infeksi tuberkulosis. Claudia bulan Juni lalu menjalani transplantasi saluran napas (dari trakhea donor cadaver/pasien yang telah meninggal yang diluruhkan sel-sel epitel pelapisnya) dan kemudian dilapis ulang sel-sel punca dewasa dari sumsum tulang belakang milik Claudia sendiri.

Dengan menggunakan sel puncanya sendiri, Claudia tidak mengalami masalah penolakan dan tak perlu menggunakan obat-obat penekan kekebalan. Claudia, yang tadinya susah bernapas dan beraktivitas, kini dapat hidup normal lagi bersama dua orang anaknya di Barcelona.

Irwan Julianto

December 1, 2008 at 4:15 pm Leave a comment

Tentang Sel Punca (Stem cell)

Di dalam tubuh manusia dan hewan pada umumnya terdapat dua jenis sel, yaitu sel somatik (tubuh) dan sel seksual (sperma dan sel telur). Dalam perkembangannya, ada lebih dari 200 jenis sel manusia yang berbeda, misalnya sel saraf, kulit, darah, ginjal, hati, otot jantung, usus, hingga tulang. Setiap jenis sel pada tubuh manusia ini dapat dirunut balik dari sel telur yang difertilisasi oleh sel sperma membentuk morula dan dalam lima hari menjadi blastokista, yang kemudian membentuk sekumpulan sel punca.

Selain sel-sel punca embrionik, ada sel-sel punca dewasa yang ditemukan di jaringan otak, mata, darah, hati, sumsum tulang, otot, dan kulit. Jadi definisi awam untuk sel punca adalah sebuah sel tunggal yang dapat bereplikasi sendiri menjadi sel serupa atau berdiferensiasi menjadi aneka jenis sel yang sama sekali berbeda (pluripoten).

Karena sifat-sifatnya inilah maka sel punca diyakini dapat digunakan untuk meregenasi sel-sel di tubuh manusia yang rusak. Misalnya memperbaiki bagian jaringan jantung yang mati pada pasien serangan jantung, atau menumbuhkan jaringan otak/ saraf dan pembuluh darah baru pada pasien stroke sehingga yang tadinya lumpuh dapat berjalan lagi. Diyakini pula sel punca dapat meregenerasi organ ginjal yang rusak, mengganti kulit pada pasien luka bakar, menyembuhkan pasien diabetes dan komplikasinya, Parkinson dan Alzheimer, arthritis, cedera tulang belakang, dan masih banyak lagi ”mukjizat” kesembuhan lainnya.

Tepat seabad yang lalu, tahun 1908, istilah ”stem cell” pertama kali diusulkan oleh histolog Russia, Alex- ander Maksimov, pada kongres hematologi di Berlin. Ia mempostulatkan adanya sel induk yang membentuk sel-sel darah (haematopoietic stem cells). Tahun 1978, terbukti teori ini betul dengan ditemukannya sel-sel punca di darah sumsum tulang belakang manusia.

Perkembangan riset sel punca melaju cepat dalam 10 tahun terakhir. Tahun 1998, James Thomson berhasil membiakkan untuk pertama kali sel-sel punca embrionik manusia di Universitas Wisconsin-Madison. Oktober 2007, Mario Capecchi, Martin Evans, dan Oliver Smithies memperoleh Hadiah Nobel Kedokteran untuk riset mereka mengubah gen-gen tertentu pada mencit menggunakan sel punca embrionik hewan ini.

Bagaimana dengan perkembangan riset dan terapi sel punca di Indonesia? Di tengah minimnya prestasi bangsa dan waswasnya masyarakat terhadap berita krisis finansial global yang kini mulai menjalar di negeri ini, riset dan terapi sel punca justru dapat menjadi salah satu oase. Dokter-dokter ahli penyakit dalam di FKUI/RSCM dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta telah melakukan terapi sel punca terhadap belasan pasien serangan jantung akut dengan hasil memuaskan.

Masih ada lagi belasan pasien jantung no hope, yang walaupun sudah menjalani operasi by-pass dan angioplasti dengan pemasangan stent tetapi tetap saja mengalami sumbatan ulang, kini sedang menunggu terapi sel punca. Kerusakan jantung mereka telah dipetakan.

Jika ini berhasil, Indonesia akan terdepan dalam terapi sel punca di Asia Pasifik. Semoga!

irwan julianto

December 1, 2008 at 4:09 pm 6 comments


August 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kegiatan demosains CREATIVE

yang mampir di creative

  • 410,262 hits